
Itu adalah kalimat yang dikatakan oleh seorang bapak. Saya lupa namanya,yang mentolelir atau dengan kata lain memaklumi curhatan-curhatan pak SBY yang oleh beberapa orang dianggap “lebay”.
Hari ini media missa menyoroti tentang keluhan Pak SBY sehubungan dengan etika dalam unjuk rasa 100 hari pemerintahan SBY-Budiono kemarin. Jika dirasakan, para aktivis dan mahasiswa sekarang tidak lagi memperhatikan makna kebebasan berpendapat itu sendiri. Penyampaian aspirasi yang juga disertai aksi bakar-membakar, peneriakan maling pada pejabat pemerintahan, menginjak injak gambar kepala Negara dan mungkin yang paling mengusik adalah demo di Jakarta yang melibatkan seekor kerbau yang merujuk pada penggambaran bapak Presiden kita, Susilo Bambang Yudhoyono.
Kerbau yang diberi nama “Sibuya”, plesetan dari nama SBY. Kerbau tersebut berbadan besar, bodoh dan lamban. Itulah yang ingin disampaikan oleh demonstran. Walaupun si kebo itu Cuma ikut demo sebentar saja karena dilarang oleh petugas, tetapi paling tidak, si kebo sudah menarik perhatian termasuk juga dari pak SBY sampai beliau meminta agar demokrasi yang ada bias sesuai dengan norma dan budaya ketimuran.
Disinilah mungkin pak SBY sudah berada pada titik didih, sehingga komando yang diberikan pun menjadi tidak presidensial seperti biasanya. Ucapan pak SBY lebih pada “curhat”, -meminta- pengertian rakyat untuk tetap sopan. Dan banyak kalangan yg mengkritisi ini.
Saya sendiri bingung mau mengkritisi.(hahaa). Disatu sisi, memang yang sudah dilakukan para demonstran sudah keterlaluan. Apakah pantas jika foto kepala Negara kita dibakar, diinjak-injak dan bahkan disamakan dengan kerbau?? Kebebasan sih kebebasan! Tapi ini keterlaluan! Apa gak malu diliat Negara lain bagaimana rakyat menghargai presidennya? Beliau tu uda dipilih mayoritas penduduk di Indonesia. Apa gak sakit rasanya kalo orang yang kita harapkan untuk membawa kemajuan disamakan sama kerbau.
Walaupun saya sendiri sedikit tidak puas dengan kinerja 100hari pemerintahan yang rame diwarnai isu pansus dan dana korupsi, tapi semuanya butuh proses. dan paling nggak beliau adalahyang terbaik saat ini. Emang gampang mengubah Indonesia dengan 300juta penduduk lebih langsung makmur terasa dimana-mana? Kalo pak SBY turun ganti presiden lagi, pastinya makin ruwet dan menjadi peristiwa luar biasa. Rame lagi, dana lagi, demo lgi, turun lagi,capekk dee.. :p
Wah jadi belain pak SBY,wkwkwk. Biarin. Pokoknya saya mencurahkan hati saya. Mohon maaf jikalau catatan ini amburadul dan kurang berkenan. Maju terus Pak SBY! Maju terus Indonesia!
Presiden juga manusia!
10.52 | Label: kejamnya dunia
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar