Setting exspansion dari suatu gypsum dipengaruhi oleh w:p rasio. Untuk membuktikan pernyataan tersebut, kami melakukan 3 percobaan dengan menggunakan w:p ratio yang berbeda-beda. Pada perobaan pertama menggunakan w:p ratio 0,28. pada perobaan kedua dengan w:p ratio ?? dan pada perobaan ketiga dengan w:p ratio ??
Pada percobaan satu yang menggunakan perlakuan sesuai anjuran pabrik, yaitu dengan w:p ratio 0,28, pada menit ke-30 jarum dial indicator bergerak 1 mm dari posisi awal, sedangkan pada menit ke-60 jarum dial indicator tetap berada pada posisi yang sama. Sehingga dapat disimpulkan dalam perobaan tersebut didapatkan setting expansion sebesar 0,001%.
Setting expansion yang diperoleh dari percobaan satu mempunyai perbedaan angka yang jauh jika dibandingkan dengan teori yang telah ada. Menurut ADA Classification, setting expansion pada gipsum keras dengan w:p ratio 0,28-0,30 adalah 0,20% sedangkan setting expansion yang didapat pada perobaan pertama adalah 0,001%.
Satu hal yang paling utama yang menimbulkan adanya perbedaan yang terlalu jauh antara hasil praktikum dengan teori adalah keterbatasan pengetahuan kami akan penggunaan ekstesometer. Pada percobaan ini terdapat kesalahan pada penggunaan alat ekstensometer yang berfungsi untuk mengukur setting ekspansi pada gypsum.
Alat ekstensometer yang berfungsi untuk mengukur perubahan kecil yang terjadi pada suatu obyek tersusun dari berbagai komponen. Salah satunya adalah segitiga besi yang bertindak sebagai sensor ekstensometer yang akan bergerak menuju jarum dial indiator jika gypsum bertambah panjang.
Pada percobaan pertama ini, kami tidak menggunakan segitiga yang seharusnya dipasang pada tubuh ekstensometer tersebut. Hal ini menyebabkan jarum dial indicator bergerak sangat lambat, yaitu 1 mm pada menit ke-30 sedangkan pada menit ke-60 jarum dial indicator tidak bergerak sama sekali, walaupun gipsum keras telah mencapai final setting time.
Percobaan ke2 kok gak ada pembahasan? Tuliskan juga ya?
Sedangkan pada percobaan yang ketiga yaitu dengan w:p ratio 0,38, gipsum keras tidak mengalami setting expansion. Hal tersebut dibuktikan pada tabel hasil praktikum. Jarum dial indicator sama sekali tidak bergerak, tetap pada angka 80 pada menit ke-30 maupun pada menit ke-60.
Hasil tersebut disebabkan oleh adanya human error atau kesalahan operator dalam memasang segitiga pada ekstensometer dan kesalahan pada peletakkan posisi cetakan pada jarum dial indicator sehingga segitiga besi yang terdorong menuju dial indiator jika gipsum mengalami setting ekspansi tidak menyentuh dual indikator secara sempuna. Hal ini menyebabkan jarum dial indicator tidak bergerak sama sekali, sehingga didapatkan hasil yang tidak sesuai dengan teori.
Nah wes,setelah ini saya tidak tahu bagaimana menyambungkan kalimatnya....
Semakin kecil rasio w:p dan semakin lama waktu pengadukan, semakin besar setting expansion. Meningkatnya rasio w:p menyebabkan semakin sedikit nucleus kristalisasi per unit volume yang ada dibandingkan dengan adukan yang lebih kental (rasio w:p lebih kecil), oleh karena itu dapat dianggap bahwa ruangan antar nucleus lebih besar pada keadaan tersebut (Annusavice, 2004). Maka pertumbuhan interaksi kristal-kristal dihidrat akan makin sedikit, demikian juga dorongan keluar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa rasio w:p berbanding terbalik dengan besarnya setting expansion.
Berbagai faktor dapat menjadi penyebab perbedaan tersebut, salah satunya adalah keterbatasan informasi mengenai gipsum keras yang dipakai dalam perobaan ini. Disini kami tidak mengetahui secara jelas mengenai number batch; tanggal kadaluarsa; number beads; cara penyimpanan gypsum keras; lalu komposisi dari gypsum keras itu sendiri, seperti adanya accelerators dan retarders yang ditambahkan oleh pabrik. Hal-hal tersebut di atas dapat sangat berpengaruh terhadap setting expansion dari gypsum keras.
Laporan IM
10.47 |
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar